*Selamat datang di website kami*Spesial promo :Paket hemat sampe tempat 1*Paket hemat sampe tempat 2*

Senin, 01 September 2014

Cerita nasi kucing yang 'naik kelas' di Jakarta





http://rajanegerobak.blogspot.com/p/paket-hemat-sampai-tempat.html

Merdeka.com - Nasi kucing atau yang dalam bahasa Jawa disebut sego kucing kini begitu populer. Keberadaannya pun kini sudah merambah kota-kota besar termasuk Ibu Kota Jakarta.


http://rajanegerobak.blogspot.com/2014/08/katalog-dan-harga-gerobak.html
Namun di Jakarta, panganan ini disebut-sebut sudah 'naik pamor' atau 'naik kelas'. Hal ini lantaran nasi kucing yang identik murah meriah justru jadi makanan mahal di Jakarta. Benarkah?

"Kalau dihitung, mending makan di warteg atau nasi padang sekalian. Rp 15 ribu dan kenyang dapat ayam atau rendang, makan di angkringan itu habis Rp 20 ribu gak kenyang babarblas," ujar Bagus pengunjung setia angkringan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan dalam sebuah perbincangan dengan merdeka.com, Selasa malam (3/6).

http://rajanegerobak.blogspot.com/2014/08/katalog-dan-harga-gerobak.html
Lalu apa itu sebenarnya nasi kucing, angkringan dan Hik?

Ketiganya memang seolah tidak bisa dilepaskan. Disebut nasi kucing lantaran nasi yang dijual memang porsi dan menunya seperti saat kita memberi makan seekor kucing. Nasi sekepal diberi ikan bandeng atau teri secuil (ada yang juga berisi tempe dan sambal) lalu dibungkus daun pisang.

Karena porsinya tak lebih dari sekepal, biasanya konsumen membeli paling tidak 2 bungkus atau lebih. Makan nasi kucing biasanya tak lengkap tanpa gorengan atau sate kulit, usus, ampela, ati atau bahkan kepala ayam.

Hidangan ini biasanya lebih maknyos dengan minum teh panas wasginatel (wangi, panas legi dan kental) atau bisa juga dengan wedang jahe. Jika suasana sedang panas bisa diganti jadi es teh.

"Nasi 3, sate usus 2, sate kulit 1, es teh sama gorengan bakwan dua jadinya Rp 17 ribu. Mending makan di rumah makan Padang sekalian to, pasti lebih murah dan lebih kenyang," ujarnya berseloroh.

Meski jatuhnya mahal, suasana di warung angkringan atau biasa disebut hik yang menjual nasi kucing tak pernah sepi pengunjung. Hidangan sederhana ini bahkan punya banyak pelanggan yang bermobil.

"Orang datang ke angkringan itu memang ndak cari kenyang atau enak. Nek cari enak ya datang ke restoran. Angkringan itu nyari suasana, nyari obrolan khas Solo dan Yogya. Enaknya datang sama teman-teman, ngobrol ngalur ngidul, gendu-gendu roso, guyon nostalgia dan segala macam. Nggak nyari enak atau kenyang," ujar Wahyu menimpali Bagus yang duduk satu tikar.

"Betul itu mas. Angkringan itu jual suasana, soal makanan itu cuma sajen. Nongkrong di angkringan atau hik mesti karo konco (sama teman) dan biasane ngerti ngomong Jowo," ujar Mas Dodi, si tukang angkringan sambil tersenyum.

Bagus sendiri sebenarnya adalah warga Jakarta, tetapi pernah kuliah di Yogyakarta. Sementara Wahyu asli Sleman Yogyakarta. Karena pernah tinggal di Yogyakarta, Bagus jadi akrab dengan nasi kucing yang memang banyak di Yogya-Solo.

Istilah angkringan sendiri populer di Yogyakarta, sedangkan Hik istilah di Solo. Meski namanya beda, tetapi menu yang dijual tak jauh beda, nasi kucing, sate-satean, gorengan, jadah, serta teh atau wedang jahe sebagai penghilang seret.

Biasanya dalam gerobak angkringan atau hik selalu tersedia tiga tungku arang. Tungku pertama dipasang ketel atau teko untuk memasak air putih, lalu yang kedua ketel untuk teh kental dan yang ketiga untuk air jahe.

"Ada yang nyebut angkringan itu Kafe Ceret Telu, banyu putih, teh kentel dan jahe pedes," seloroh Wahyu sambil terkekeh.

Penjual angkringan atau hik selalu memasang kursi panjang di depan gerobaknya yang tertutup terpal. Namun jangan takut kehabisan kursi, sebab penjual nasi kucing juga selalu menyediakan tikar.

Tikar digelar di sekitar gerobak sehingga pengunjung bisa lesehan menikmati hidangan ala kadarnya itu sambil ngobrol ngalor ngidul. Bahkan tak jarang banyak yang memilih duduk di tikar dari pada duduk di kursi panjang depan gerobak.

"Nek di Solo, hik-nya lebih lengkap Mas. Isinya segala jajanan pasar lengkap, wong sate bekicot, burung goreng, sambel goreng ati, saren (darah yang digoreng), bihun, mie goreng, pokoke lebih lengkap," timpal Fardianto, warga Sukoharjo yang kini bekerja di kawasan Tebet.
Meski awalnya hanya ada di Yogya dan Solo, kini hampir semua kota di Jawa Tengah ada angkringan atau hik. Bahkan dagangan ini juga sudah menyebar ke Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat.

Di Jakarta sendiri angkringan atau hik juga sudah menjamur. Pelanggannya mulai dari sopir sampai bos-bos tak malu datang makan nasi kucing. Pernah mencicipi hidangan seporsi kucing tersebut. Silakan mencoba.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Mbk sya ingin grobak mie ayam 2 tungku tp dr jati kira" brp yah ?untk wilayah kalisuren bogor bisa gk cod

Unknown mengatakan...

Untuk grobk mie ayam dr jati 2 tngku kna brp yah,☺
Dn untuk wilayah kalisuren bogor bsa cod kah?